Negeri Ads

Rabu, 09 Juni 2010

Wali Songo Periode Dua s/d Empat

WALI SONGO PERIODE KE DUA
Pada periode kedua ini masuklah tiga orang wali menggantikan tiga wali yang wafat, yaitu

Raden ahmad ali Rahmatullah,
Dating ke Jawa pada tahun 1421, menggantikan Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419, Raden ahmad berasal dari Cempa Muangthai selatan.

Sayyid Ja’far shodiq
Berasal dari Palestina, datan di Jawa tahun 1436 menggantikan Malik Isro’il yang wafat pada tahun 1435. Beliau tinggal di Kudus hingga dikenal dengan Sunan Kudus

Syarif Hdayatullah
Berasal dari Palestina dating di Jawa pada tahun 1436 M. menggantikan Maulana ali akbar yang wafat pada tahun 1435.
Siding Wali Songo yang kedua ini diadakan di Ampel Surabaya. Para wali kemudian membagi tugas. Sunan Ampel, Maulana Ishaq dan Maulana Jumadil Kubro bertugas di Jawa imur. Sunan Kudus, Syekh Subakir dan Maulana A-Maghrobi bertugas di Jawa tengah. Syarif Hidayatullah, Maulana Hasanuddin dan Maulana Aliyuddin di Jawa Barat.
Dengan adanya pembagian tugas ini maka masing-masing wali telah mempunyai wilayah dakwah sendiri-sendiri, mereka bertugas sesuai keahlian masing-masing.

WALI SONGO PERIODE KE TIGA
Pada tahun 1463 M masuklah empat wali menjadi anggota Walisongo, yaitu :

Raden Paku
Raden Paku atau syekh Maulana Ainul aqin kelahiran lambangan Jawa timur. Putra dari Syekh Maulana Ishak dengan Putri Kerajaan lambangan bernama Dewi Sekar Dadu atau Desi Kasiyan. Raden Paku ini menggantikan kedudukan ayahnya yang telah pindah ke egeri Pasai. Karena Raden Paku tinggal di Giri maka beliau lebih terkenal dengan sebutan Sunan Giri, makamnya terletak di Gresik Jawa Timur

Raden Said
Raden Said atau Sunan Kali Jogo kelahiran Tuban Jawa Timur. Beliau adalah putra Adipati Wilwatikta yang berkedudukan di Tuban. Sunan Kali Jogo menggantikan Syekh Subakir yang kembali ke Persia.

Raden Makdum Ibrahim
Raden Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang lahir di Ampel Surabaya, beliau adalah putra Sunan Ampel. Sunan Bonang menggantikan kedudukan Maulana Hasanuddin yang wafat pada tahun 1942. Siding Walisongo ketiga ini juga berlangsung di ampel Surabaya.


WALI SONGO PERIODE KE EMPAT
Pada tahun 1466 diangkat dua wali menggantikan dua yang telah wafat yaitu Maulana Ahmad Jumadil Kubro dan Maulana Muhammad Maghrobi. Dua wali yang menggantikannya ialah :

Raden Hasan
Raden Hasan atau Raden Fattah ( R. Patah ) adalah murid Sunan Ampel, beliau adalah Putra Raja Brawijaya Majapahit. Beliau diangkat sebagai Adipati Bintoropada tahun 1462 M. Kemudian membangun Masjid Demak pada tahun 1465 dan dinobatkan sebagai Raja atau Sultan Demak pada tahun 1468

Fatullah Khan
Fatullah Khan adala putra Sunan Gunung Jati, beliau dipilih sebagai anggota Walisongo menggantikan ayahnya yang telah berusia lanjut.

Sabtu, 05 Juni 2010

WALI SONGO PERIODE PERTAMA

Umumnya kita mengenal Wali Songo hanyalah sembilan orang yaitu : Syekh maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajad, Sunan Kalijogo, Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Gurnung Jati.
Sebenarnya Walisongo adalah nama suatu da’wah atau dewan mubaligh. Apabila salah seorang dari dewan tersebut pergi atau meninggal dunia maka akan segera digantikan oleh wali lainnya.
Seperti tersebut dalam Kitab Kanzul Ulul Ibnul Bathuthah yang penulisnya dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghrobi, Walisongo melakukan sidang tiga kali yaitu :
Tahun 1404 M adalah sembilan wali
Tahun 1436 M masuk tiga wali pengganti yang wafat, tahun 1463 M masuk empat wali pengganti yang wafat dan pergi.
Menurut KH. Dachlan Abd. Qohar, pada tahun 1466 M, Walisongo melakukan sidang lagi membahas berbagai hal, diantaranya adalahperkara Syekh Siti Jenar, meninggalnya dua orang wali yaitu Maulana Muhammad Al Maghrobi dan Maulana Ahmad Juadil Kubro serta masuknya dua orang wali menjadi anggota Walisongo.

Wali Songo Periode Pertama
Pada waktu sulta Muhammad1 memerintah kerajaan turki, beliau menanyakan perkembangan agama Islam kepada para pedagang dari Gujarat (India). Dari mereka Sultan mendapat kabar berita bahwadi Pulau Jawa ada dua kerajaan Hindu Majapahit dan Pajajaran. Di antara rakyatnya ada yang beragama Islam tapi hanya terbatas pada keluarga pedagang Gujarat yang kawin dengan para penduduk pribumi yaitu di kota kota pelabuhan.
Sang Sultan kemudian mengirim surat kepada para pembesar Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah, isinya meminta para ulama’ yang mempunyai karomah untuk dikirim ke pulau Jawa. Maka terkumpullah sembilan ulama berilmu tinggi serta mempunyai karomah.
Pada tahun 808 Hijrah atau 1404 Masehi para ulama itu berangkat ke pulau Jawa.
Sembilan orang tersebut adalah :

Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki ahli mengatur Negara.
Berdakwah di Jawa bagian timur. Wafat di Gresik pada tahun 1419 M, makamnya terletak satu kilo meter dari sebelah utara Pabrik Semen Gresik.

Maulana Ishak , berasal dari Samarqand (dekat Buhara _ Rusia Selatan).
Beliau ahli pengobatan, setelah tugasnya di Jawa selesai Maulana Ishak pindah ke Pasai dan Wafat di sana.

Maulana Ahmad Jumadil Kubra, berasal dari Mesir, beliau dakwah keliling. Makamnya di Troloyo Trowulan, Mojokerto Jawa Timur.

Maulana Muhammad Al Mahrobi, berasal dari Maghrib(Maroko)
Beliau berdakwah keliling, wafat tahun 1465 M. makamnya di Jatinom Klaten, Jawa Tengah.

Maulana Malik Isroil, berasal dari Turki, ahli mengatur Negara, wafat tahun 1435 M, makamnya di Gunung Santri.

Maulana Hasanuddin, berasal dari Persia (Iran), Ahli pengobatan, wafat tahun 1435 M, makamnyadi Gunung Santri.

Maulana Hasanuddin, berasal dari Palestina
Berdakwah keliling, wafat tahun 1462 M, makamnya di samping masjid Banten Lama.

Maulana Alayudin berasal dari Palestina
Berdakwah keliling, wafat pada tahun 1462 M, makamnya di samping masjid Banten Lama.

Syekh Subakir, berasal dri Persia
Ahli menumbali tanah angker yang dihuni jin-jin jahat tukan menyesatkan manusia dengan adanya tumbal itu jin-jintadi akan menyingkir dantanah yang ditumbali dijadikan Pesantren. Setelahbanyak tempat yang ditumbali maka Syekh Subakir kembali ke Persia pada tahun 1462 M dan wafat di sana. Slah seorang pengikut atau sahat Syekh Subakir meninggal dunia ketia beristirahat di daerah Blitar. Hingga sekarang makam pengikut Syekh Subakir tersebut ada di sebelah utara utara pemandian Blitar, Jawa Timur. Di sana ada peninggalan Syekh Subakir berupa sajadah yang tebuat dari batu kuno.

MAULANA MALIK IBRAHIM

SUNAN GRESIK
Jauh sebelum maulana Malik Ibrahim datang ke Pulau Jawa sebenarnya sudah ada masyarakat Islam di daerah pantai utara Jawa. Termasuk di desa Leran. Hal itu bias dibuktinan dengan adanya makam seorang wanita bernama Fatimah Binti Maimum yang meninggal pada tahun 475 Hijriyah atau pada tahun 1082 M.

Jadi, sebelum jaman Wali songo, Islam sudah ada di Pulau Jawa yaitu daerah Jepara dan leren. Tetapi Islam pada masa itu belum berkembang secara besar-besaran.
Maulana Malik Ibrahim yang lebih dikenal penduduk setempat sebagai Kakek Bantal itu diperkirakan datan ke Gresik pada tahun 1404 M. beliau berdakwah di Gresik hingga akhir wafatnya yaitu pada tahun 1419.

Pada masa itu kerajaan yang berkuasa di Jawa Timur adalah Majapahit. Raja dan rakyatnya kebanyakan masih beragama Hindu atau Budha. Sebagian rakyat Gresik sudah ada yang beragama Islam tapi masih banyak yang beragama Hindu atau bahkan tidak beragama sama sekali.Dalam berdakwah Kakek Bantal menggunakan cara yang bijaksana dan strategi yang tepat berdasarkan ajaran Al qur’an.

Hendaknya engkau ajak ke jalan Tuhanmu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan dengan petunjuk – petunjuk yang baik serta ajaklah mereka berdialog (bertukar pikiran) dengan cara yagn sebaik-baiknya. (QS An Nahl 125)

Ada yang menyebutkan bahwa beliau berasal dari Turki yang mengembara ke Gujarat, sehingga berpengalaman menghadapi orang-orang Hindu di Pulau Jawa. Kakek Bantal di Pulau Jawa selain menghadapi orang-orang Hindu juga harus meluruskan orang yang menganut aliran sesat serta meluruskan orang islam yang terjebak musyrik karena perbauran orang islam dan Hindu Budha, dengan cara menunjukkan akhlak yang Insani dan Islami sebagaimana ajara Rosulullah SAW.

Beliau juga ahli pertanian dan pengobatan. Dengan pengalaman pertanian di negaranya kakek bantal membimbing rakyat bertani yang benar. Sejak kakek bantal di gresik kehidupan petani semakin makmur dan damai serta banyak orang diobatinya. Dengan sikap yang lemah lembut, welas asih dan ramah tamah kepada semua orang, baik sesama muslim atau dengan non muslim membuatnya terkenal sebagai tokoh masyarakat yang disegani dan dihormati. Kepribadian yang baik itulah yang menarik hati penduduk setempat sehingga mereka berbondong-bondong masuk agama Islam dengan suka rela dan menjadi pengikut beluau yang setia.

Orang-orang Hindu yang menganut kasta memudahkan Kakek Bantal menarik orang Hindu masuk Islam. Orang Hindu dari kaum sudra banyak masuk Islam karena islam menganggap semua manusia derajatnya sama di sisi Tuhan, hanya Iman dan Taqwanya yang membedakannya.

Setelah pengikutnya banyak Kakek Bantal mendirikan Masjid dan Pesantren. Pendirian Pesantren pertama di Nusantara yang dibantu oleh orang Cermain itu diilhami kebiasaan orang Hindu yaitu Bikhu dan Brahmana yang mendidik cantrik dan calon pemimpin agama di mandala-mandala mereka.

Itu strategi wali untuk menarik umat hindu budha dengan tidak menentang secara frontal melainkan mendirikan pesantren yang mirip dengan mandalah bikhu untuk mendidik umat generasi islam. Dari pesantren gresik banyak lahir mubaliq mubaliq yang berdakwah menyebar ke seluruh Nusantara.